FORMAT RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(F RPP)
Satuan Pendidikan : Stikes Panrita
Husada Bulukumba
Mata Pelajaran : ASKEB II PERSALINAN
Kelas/Semester : II / III
Materi Pembelajaran : ASKEB II Persalinan Kala IV
Alokasi Waktu : 1 x 100 menit
I. Standar Kompetensi : Bidan memberikan asuhan yang bermutu
tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu
persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu
untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayi baru lahir
II. Kompetensi Dasar : Memberikan asuhan kebidanan pada ibu
bersalin kala IV
III. Indikator
A.
Kognitif
1.
Produk : Merancang alat peraga
tentang materi penjahitan amniotomi/anestesi
2.
Proses :
Mengenal dan
menjelaskan tentang jenis fisiologi dan patologi pada kala IV
B.
Psikomotorik :
1.
Memberikan tes tulis tentang asuhan persalinan pada kala IV
2.
Memberikan tes tulis tentang penjahitan luka
episiotomi/laserasi
C.
Afektif :
1.
Karakter :
Mempromosikan asuhan persalinan pada kala IV
a. Jujur :
Memberi penyuluhan mengenai asuhan yang dilakukan pada kala IV
b. Tanggung jawab : Memberi penanganan pada setiap
masalah dalam asuhan persalinan kala IV
c. Hati-hati : Memberikan penanganan sesuai dengan prosedur
asuhan pada kala IV
d. Teliti : Menilai tahap-tahap pada setiap asuhan
persalinan kala IV
2. Keterampilan sosial :
a. Bertanya :
Menanyakan prosedur asuhan persalinan pada kala IV
b. Menyumbang ide atau
pendapat : Membentuk umpan balik
agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif.
c. Menjadi pendengar
yang baik : Menjadi pendengar yang baik dalam proses
pembelajaran
d. Berkomunikasi : Mahasiswa mampu meningkatkan komunikasi dalam
pelaksanaan proses pembelajaran.
IV. Tujuan Pembelajaran : Setelah mengikuti mata pelajaran tentang
asuhan persalinan pada kala IV mahasiswa mampu:
A.
Kognitif
1. Produk : Mahasiswa mampu merancang alat
peraga tentang penjahitan pada luka episiotomi/laserasi
2. Proses : - Mahasiswa dapat menyimak
penjelasan tentang asuhan persalinan pada kala IV
- Mahasiswa dapat menyimak tentang penjahitan
episiotomi/laserasi
B. Psikomotor
1. Menjelaskan tentang
asuhan persalinan pada kala IV
2. Menjelaskan dan
mempraktekkan tentang penjahitan episiotomi/laserasi
C. Afektif
1. Karakter : Setelah mengikuti pembelajaran ini
diharapkan mahasiswa mempunyai karakter yakni mahasiswa dapat menjelaskan dan
mengaplikasikan tentang asuhan-asuhan yang dilakukan pada kala IV
2. Keterampilan sosial
: Setelah mengikuti pembelajaran mahasiswa mampu
·
Mengaplikasikan asuhan-asuhan yang baik dilakukan sesuai
prosedur asuhan kala IV di lahan praktek
·
Mahasiswa mempunyai keterampilan bertanya dan menjawab
pertanyaan dengan benar dan menghargai pendapat peserta didik lain.
V.
Materi Ajar
1. Pengertian
Kala IV
Persalinan adalah suatu proses perneluaran hasil konsepsi ( janin
dan uri ) yang dapat hidup ke dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau
jalan lain.
Kala IV persalinan adalah waktu atau kala di dalam suatu
proses persalinan yang dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam
setelah itu.
Kala IV persalinan adalah kala pada dua jam pertama
persalinan. Kala IV persalinan adalah dimulai dari lahirnya plasenta sampai dua
jam pertama post partum.
Kala IV merupakan masa 1-2 jam setelah plesenta lahir. Dalam Klinik, atas
pertimbangan-pertimbangan praktis masih diakui adanya Kala IV persalinan
meskipun masa setelah plasenta lahir adalah masa dimulainya masa nifas
(puerpurium), mengingat pada masa ini sering timbul perdarahan (Yanti, 2010).
Observasi yang harus dilakukan pada Kala IV
adalah :
a.
Tingkat kesadaran ibu bersalin
b.
Pemeriksaan TTV : TD, Nadi,
Suhu, Respirasi
c.
Kontraksi Uterus
d.
Terjdinya perdarahan, perdarahan
dianggap masih normal jika jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc
e.
Isi kandung kemih (
Saifuddin, 2008).
2.
Jenis-jenis Fisiologi dan
Patofisiologi kala IV
a. Fisiologi
kala IV
Kala
IV adalah kala pengawasan dari 1 – 2 jam setelah bayi dan plasentalahir. Hal – hal yang perlu
diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali dalam bentuk normal.
Hal ini dapat dilakukan dengan rangsangan taktil (masase) untuk merangsang
uterus berkontraksi baik dan kuat. Perlu juga dipastikan bahwa plasenta telah
lahir lengkap dan tidak ada yang tersisa dalam uterus serta benar-benar dijamin
tidak terjadi perdarahan lanjut (Sumarah, 2008).
Evaluasi uterus
Setelah
kelahiran plasenta, periksa kelengkapan dari plasenta dan selaput ketuban. Jika masih ada sisa plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal dalam uterus akan mengganggu kontraksi uterus sehingga menyebabkan perdarahan. Jika dalam waktu 15 menit uterus tidak berkontraksi dengan baik,
maka akan terjadi atonia uteri. Oleh karena itu, diperlukan
tindakan rangsangan taktil (massase) fundus uteri dan bila perlu dilakukan Kompresi Bimanual.
Untuk
mengetahui ada tidaknya trauma atau hemoroid yang keluar, maka periksa anus
dengan rectal toucher. Laserasi dapat dikategorikan dalam:
1. Derajat
pertama: laserasi mengenai mukosa dan kulit perineum, tidak perlu dijahit.
2. Derajat
kedua: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit dan jaringan perineum (perlu
dijahit).
3. Derajat
ketiga: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter
ani.
4. Derajat
empat: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter
ani yang meluas hingga ke rektum. Perlu dilakukan rujukan segera
Pemeriksaan serviks, vagina,
perineum
Untuk
mengetahui apakah ada tidaknya robekan jalan lahir, maka periksa daerah perineum, vagina dan vulva. Setelah bayi lahir, vagina akan mengalami peregangan, oleh kemungkinan edema dan lecet. Introitus vagina juga akan tampak terkulai dan
terbuka. Sedangkan vulva bisa berwarna merah, bengkak dan mengalami lecet-lecet.
Perkiraan darah yang hilang
Satu
cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan cara melihat darah tersebut
dan memperkirakan berapa banyak botol berukuran 500 ml yang bisa dipenuhi darah
tersebut. Jika darah bisa mengisi 2 botol artinya ibu telah kehilangan 1 lt
darah. Memperkirakan kehilangan darah hanyalah salah satu cara untuk menilai
kondisi ibu. Upaya yang kebih penting adalah dengn memeriksa ibu secara berkala
dan lebih sering selama kala VI dan menilai kehilangan darahnya dengan cara
memantau tanda vital, mengevaluasi kondisi terkini, memperkirakan jumlah
perdarahan lanjutan dan menilai tonus otot uterus.
b. Patologi
kala IV
Perdarahan kala IV (primer dan sekunder)
Yang
dimaksud perdarahan pasca persalinan secara tradisional ialah perdarahan yang
melebihi 500 cc pada kala III.
Syok obstetrik
Syok
adalah suatu keadaan disebabkan gangguan sirkulasi darah ke dalam jaringan
sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan dan tidak
mampu mengeluarkan hasil metabolisme.
Penyebab
terjadinya syok dalam kebidanan yang terbanyak adalah perdarahan, kemudian
neurologenik, kardiogenik, endotoksik/septic, anafilaktik, dan penyebab syok
yang lain seperti emboli, komplikasi anastesi, dan kombinasi.
Gejala
klinik syok pada umumnya sama yaitu tekanan darah menurun, nadi cepat dan
lemah, pucat, keringat dingin, sianosis jari-jari, sesak nafas, pengelihatan
kabur, gelisah, dan akhirnya oliguria/anuria.
3. Penjahitan
Luka Episiotomi
a. Tujuan Penjahitan
1. Untuk
menyatukan kembali jaringan yang luka.
b. Hal Yang Perlu Diperhatikan
Dalam melakukan penjahitan perlu
diperhatikan tentang:
2. Menggunakan
sedikit jahitan.
3. Menggunakan
selalu teknik aseptik.
4. Menggunakan
anestesi lokal, untuk memberikan kenyamanan ibu.
c. Penggunaan Anestesi Lokal
1. Ibu lebih merasa nyaman (sayang ibu).
d. Nasehat
Untuk Ibu
Setelah
dilakukan penjahitan, bidan hendaklah memberikan nasehat kepada ibu. Hal ini berguna
agar ibu selalu menjaga dan merawat luka jahitannya. Adapun nasehat yang
diberikan diantaranya:
2. Menghindari penggunaan obat-obat
tradisional pada lukanya.
5. Menganjurkan banyak minum.
e. Anestesi
Lokal dan Prinsip Penjahitan
Teknik injeksi anestesi lokal adalah
sebagai berikut :
1. Jelaskan pada ibu apa yang akan dilakukan dan
bantu ibu agar merasa nyaman.
2. Hisap 10 ml larutan lidokain 1%dalam alat
suntik sekali pakai 10ml.
3. Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke
tabung suntik tersebut.
4. Suntikkan jarum ke ujung laserasi lalu tarik
jarum sepanjang tepi luka
5. Aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk ke
pembuluh darah.
6. Suntikkan anestesi sejajar dengan
permukaan luka pada saat jarum suntik ditarik perlahan-lahan.
7. Tarik jarum hingga sampai ke bawah tempat
dimana jarum tersebut disuntikkan.
8. Arahkan jarum ke daerah diatas tengah luka dan
ulangi langkah ke-4.
9. Tusukkan jarum untuk yang ketiga kalinya
dan sekali lagi sehingga garis di satu sisi luka mendaparkan anestesi lokal.
10. Ulangi pada sisi lain. Setiap sisi luka akan
membutuhkan kurang lebih 5 ml lidokain 1% untuk mendapatkan anestesi yang cukup
11. Tarik jarum hingga sampai ke bawah tempat dimana
jarum tersebut disuntikkan.
f. Penjahitan
Luka Episiotomi
Adapun langkah-langkah melakukan
penjahitan luka episiotomi adalah sebagai berikut :
1. Cuci
tangan dan gunakan sarung tangan steril.
2. Pastikan
kelengkapan peralatan dan bahan yang akan digunakan.
3. Setelah memberikan anestesi lokal dan memastikan
daerah tersebut sudah di anestesi, telusuri luka untuk menentukan
batas-batasnya.
4. Buatlah jahitan pertama kurang lebih 1 cm di atas
ujung laserasi di bagian dalam vagina. Setelah itu ikat dan potong pendek
benang.
5. Tutup
mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah cincin hymen.
6. Tepat sebelum cincin hymen, masukkan jarum ke dalam
mukosa vagina lalu ke bawah cincin hymen sampai jarum ada di bawah laserasi.
Periksa bagian antara ujung jarum di perineum dan bagian atas laserasi.
Perhatikan seberapa dekat jarum ke puncak luka.
7. Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka,
menggunakan jahitan jelujur hingga mencapai bagian bawah laserasi. Pastikan
jarak setiap jahitan sama dan otot telah terjahit.
8. Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke
atas dan teruskan penjahitannya menggunakan jelujur untuk menutup lapisan sub
kutikuler. Jahitan ini akan menjadi jahitan lapis kedua.
9. Tusukkan jarum dari robekan perineum ke dalam
vagina. Jarum harus keluar dari belakang cincin hymen.
10. Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina.
Potong ujung benang dan sisakan 1,5 cm. jika benang dipotong terlalu pendek,
simpul akan longgar, dan laserasi akan membuka.
11. Ulangi
pemeriksaan vagina dengan lembut.
12. Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke anus.
Raba apakah ada jahitan pada rektum. Jika ada jahitan, ulangi pemeriksaan
rektum 6 minggu pasca persalinan. Jika penyembuhan belum sempurna, rujuk.
13. Cuci daerah genitalia dengan lembut dengan
menggunakan sabun dan ait DTT kemudian keringkan.
14. Nasehati
ibu agar menjaga perineumnya, hindari obat-obat tradisional, cuci 3-4 kali
sehari, kontrol 1 minggu kemudian atau jika ada keluhan seperti demam, bau
busuk, segera datangi bidan.
VI.
Model dan Metode Pembelajaran
A.
Model Pembelajaran :
Langsung
B.
Metode Pembelajaran :
1. Ceramah
2. Tanya
jawab
3. Praktikum
VII. Sumber/Media
Pembelajaran
1. Sumber :
Buku Panduan Asuhan
persalinan pada kala IV
Buku Ilmu
Kebidanan, Sarwono Prawirohardjo
2. Media
Pembelajaran
LCD, Leptop/Slide,
Phantom penjahitan laserasi
VIII. Proses
Belajar Mengajar atau Skenario Pembelajaran
A.
Pendahuluan
|
Kegiatan
|
Waktu
|
|
1.Salam
2.Mengabsen
3. Apersepsi
4. Menyampaikan
Tujuan Pembelajaran
|
5 Menit
|
B.
Inti
|
Kegiatan
|
Waktu
|
|
1. Eksplorasi
a. Mengungkapkan apa yang
mahasiswa telah ketahui
tentang asuhan pada ibu
bersalin kala IV
b. Pengetahuan awal bagi mahasiswa mengenai asuhan pada ibu
bersalin kala IV
2 Elaborasi
a. Menjelaskan materi dengan mahasiswa
b. LKM untuk masing-masing mahasiswa
3 Konfirmasi
a. Dosen memberi umpan balik positif terhadap hasil proses
pembelajaran
b. Dosen memberikan penguatan materi mengenai asuhan persalinan
pada kala IV
c. Dosen memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bertanya
|
80 Menit
|
C.
Penutup
|
Kegiatan
|
Waktu
|
|
a. Mengarahkan mahasiswa untuk membuat kesimpulan
b. Menutup pembelajaran dan memintanya untuk mengulang
pembelajarannya dirumah
c. Menginformasikan materi untuk pertemuan berikutnya
d. Salam dan doa untuk mengakhiri KBM.
|
15 Menit
|
IX.
Penilaian
1.
Teknik Penilaian : Dilakukan setelah materi selesai
a. Penilaian kognitif
|
No
|
Jenis Soal
|
Skor maksimum
|
Perolehan skor
|
|
1
|
Tugas
|
10
|
|
|
2
|
LKM
|
20
|
|
|
Jumlah
|
30
|
Ket : Nilai = Jumlah perolehan skor x 100%
Skor maksimum
b. Penilaian afektif
|
No
|
Hal-hal yang di nilai
|
Skor maksimum
|
Perolehan Skor
|
|
1
|
Aktivitas yang dinilai
|
0-5
|
|
|
2
|
Kemampuan mengajukan pertanyaan
|
0-5
|
|
|
3
|
Kemampuan menjawab pertanyaan
|
0-5
|
|
|
Jumlah
|
15
|
Ket :
5 = sangat baik
4 = baik
3 = cukup
2 = buruk
1 = sangat buruk
Nilai = Jumlah perolehan skor x 100%
Skor maksimum
2.
Bentuk Instrumen : Tes
Tertulis
3.
Instrumen :
Soal
Soal Essay :
1.
Apakah yang dimaksud dengan asuhan persalinan pada kala IV ?
2.
Sebutkan observasi yang harus dilakukan pada kala IV !
3.
Sebutkan dan jelaskan derajat-derajat laserasi !
4.
Sebutkan indikasi dilakukan episiotomi !
4. Kunci Jawaban :
1. Kala IV
persalinan adalah kala pada dua jam pertama persalinan. Kala IV persalinan
adalah dimulai dari lahirnya plasenta sampai dua jam pertama post partum.
2. Observasi
yang harus dilakukan pada kala IV :
Tingkat
kesadaran ibu bersalin
Pemeriksaan
TTV : TD, Nadi, Suhu, Respirasi
Kontraksi
Uterus
Terjdinya
perdarahan,
perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak
melebihi 400 sampai 500 cc
Isi
kandung kemih
3. Derajat-derajat laserasi, yaitu :
Derajat pertama: laserasi mengenai mukosa dan kulit
perineum, tidak perlu dijahit.
Derajat
kedua: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit dan jaringan perineum (perlu dijahit).
Derajat ketiga: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit,
jaringan perineum dan spinkter ani.
Derajat empat: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit,
jaringan perineum dan spinkter ani yang meluas hingga ke rektum. Perlu
dilakukan rujukan segera
4. Indikasi dilakukan episiotomi, adalah :
5. Pedoman
Penskoran :
|
No
|
Jenis Soal
|
Skor maksimum
|
Perolehan skor
|
|
1
|
Uraian
|
10
|
|
|
Jumlah
|
10
|
Ket :Nilai = Jumlah perolehan skor x 100%
Skor maksimum
Daftar Pustaka
1. Varney’s Midwifery, 1997
2. Saifudin Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006.
3. Manuaba, Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan.
Jakarta : EGC.
|
Mengetahui
Isntruktur
……………………..
JUSMIATI SYARIF
|
Makassar,1 November 2016
Guru Mata Pelajaran
…………………………
NAMA & No. Peserta
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar